Sebuah Foto Keluarga

 Oleh Budiarto Rumekso
April 3, 2011 at 11:35am

Kabut sudah turun ketika kami menyadari bahwa kami salah jalan, seharusnya jalan satunya yang kami ambil, mata saya masih mengantuk pagi itu, hujan rintik2 diluar jendela mobil membuat saya malas beringsut. Saya diam saja. Menikmati gerimis pagi itu.

Setelah berputar arah kami mulai menyusuri jalan yang tadi kami lewati, kabut membuat sekelilingnya berwarna hitam putih dan abu-abu, indah saya akui, tapi misterius, seperti berada di lain dunia.

Jalan ini akhirnya membawa mobil kami ke tempat yang kami tuju, desa karyamukti, tepat di bawah situs megalitik gunung padang, situs besar yang masih menyimpan begitu banyak pertanyaan tentang asal usulnya, batu-batu berserak berusia ribuan tahun tanpa keterangan yang pasti siapa dan untuk apa dibuat. Mereka ada diatas sana, di gunung padang tidak jauh dari tempat saya berdiri. Tertutup kabut pagi.

Tapi waktu masih belum mengijinkan saya kesana. Masih ada hal yang lebih penting yang harus kami lakukan terlebih dahulu di desa ini. Hal sederhana tetapi penting.. foto keluarga untuk warga desa. Ya itulah tujuan utama perjalanan kami kali ini.

Berawal dari ajakan seorang teman untuk pergi ke gunung padang, tempat yang sudah lama saya nantikan utnuk mengunjunginya, di nyatakan sebagai situs megalith terbesar se asia tenggara cukup membuat saya berkeinginan untuk kesana. Ditambah dengan kegiatan amal untuk melakukan foto keluarga bagi penduduk desa setempat membuat saya tak membuang waktu lama  menerima ajakan tersebut.

Pagi itu masih saja berkabut, tak banyak yang bisa kami lakukan, setelah selesai urusan dengan ketua dusun setempat kami memindahkan barang ke rumah kosong yang akan jadi tempat sementara kami di desa tersebut. Niat awal untuk mendirikan tenda kami urungkan dengan pertibangan akan sangat merepotkan dalam cuaca seperti ini.

Rumah ini sederhana, rumah panggung berlantai kayu, berdinding bilik berwarna putih dengan kusen-kusenya berwarna merah muda, ada tiga kamar tidur, ruang depan dan ruang keluarga yang dapat kami pergunakan, serta sebuah dapur dengan tungku kayu bakar yang cukup membuat teman saya bersemangat melakukan kegiatan masak memasak. tampak sangat cocok dengan kegiatan yang akan kami lakukan, akhirnya rumah ini kami putuskan juga menjadi studio dadakan untuk kegiatan amal kami.

Kami berjanji dengan pak Encep, ketua dusun di desa tersebut untuk menyebarkan undangan kegiatan yang akan kami lakukan pada jam satu siang, ketika penduduk desa berada di rumah ,beristirahat dari pekerjaan mereka berladang. Ada sekitar lima puluh keluarga di dusun tersebut, jumlah yang cocok dengan kemampuan kami yang hanya beberapa orang saja.

Sembari menunggu waktu meyebarkan undangan, kami membereskan barang-barang kami terlebih dahulu, kemudian melakukan kegiatan rutin yang kami lakukan ketika ketika ngetrip. Masak.. ya memasak merupakan kegiatan rutin disini, semuanya membantu. Menu siang itu pisang goreng tepung, sayur asem, tempe goreng dan ikan asin gabus laut. Ruang tengah berlantai kayu tersebut berubah menjadi talenan luas. Memasak bersama merupakan kegiatan yang menyenangkan, hujan gerimis diluar tak menghentikan kegembiraan kami. Karena peralatan makan tak kami bawa maka kami menggunakan alas daun pisang untuk makan bersama, menu yang mantap, terutama sayur asem dan ikan asinnya

Hujan masih mengguyur ketika waktu yang ditentukan tiba, kami putuskan untuk menunggu sampai hujan mereda, beberapa tertidur karena kelelahan, saya pun melakukannya karena selama perjalanan ke mari tidur saya kurang memuaskan.

Waktu berlalu, Pukul tiga gerimis kecil masih turun. Tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menyebarkan undangan tersebut. Akhirnya kami putuskan untuk tetap melakukannya. Jaket saya cukup melindungi dari gerimis, tak masalah bagi saya. Satu teman saya tak dapat ikut karena kami tak tega membangunkannya, menyetir semalaman dan tak tidur dari pekerjaan sebelumnya. Membuat kami tak membangunkannya. kami rasa itu bijaksana, Let us do this work my friend. Coz we’ll need you awake for the show tomorrow

Setelah bertemu pak encep, kami membagi dua grup. Grup atas dan bawah, grup atas terdiri dari Umi dan Hanum, bersama pak Encep dan kru dari sctv yang meliput kegiatan ini. Saya bersama Sem dan Efrian ditemani mang Yadi untuk grup bawah. Setelah berkordinasi lalu kami berpisah jalan untuk mengerjakannya.

Menyebar undangan merupakan salah satu kegiatan terseru dari perjalanan saya kali ini, gerimis, jalan tanah yang becek dan licin serta kontur yang berbukit-bukit membuat hal tersebut tak semudah yang dibayangkan. Berulang kali saya harus menggunakan kedua tangan saya untuk berpegangan agar tak terpeleset. Rumah-rumah penduduk di atas bukit menjadi tantangan terberat saat itu, kadang tak beralas kaki menjadikannya lebih mudah, namun kadang sandal tetap harus kami gunakan. Banyak kejadian lucu dan gurauan menjadikan kegiatan ini seru dan menyenangkan. Dan para penduduk pun memberikan respon positif, tak ada curiga disana,sejauh yang saya lihat,  terlebih lagi ketika esoknya saya tau bahwa mereka pun hadir  di acara kami. Rasanya menyenangkan!!

Setelah menyerahkan undangan semampu kami, kami bertemu kembali dengan grup atas di jalan utama dusun, tidak semua undangan tersebar tapi kami rasa sudah cukup, dari grup atas kami mendapat info bahwa reporter sctv Alya terpeleset dan terkilir tangannya, yang kemudian bertemu kami juga di jalan desa ketika diantar ke tukang urut di desa tersebut.

Lapar, dingin dan lumayan lelah membuat kami bersemangat memasak ketika tiba dirumah. Menu malam itu ayam kampung, oseng paria, tahu goreng dan telur dadar. Mewah sekali hahaha. Kami makan beramai-ramai, masih beralaskan daun pisang. Alya pun sudah kembali dari tukang urut dan tampaknya tangannya sudah membaik. Makan malam yang menyenangkan. Saya suka.

Setelah makan malam dan membersihkan diri. Kegiatan malam itu diisi dengan mengetes peralatan yang kami bawa. Bolang membawa perlengkapan fotografi yang dia punya untuk kegiatan ini. Semua mengeluarkan kamera. Dan jadilah ajang ini menjadi ajang foto sesama kami. Batere kamera saya bermasalah, padahal sebelumnya sudah saya charge terlebih dahulu. Namun apa mau dikata, ketika sore saya menyalakannya hanya tertinggal satu bar saja di lcd penunjuk isi batere. Kecewa. Tapi ya sudahlah..

Malam itu menyenangkan, setelah ditambah sedikit kordinasi untuk kegiatan esok hari. Kami pun beristirahat. Beberapa teman akan datang esok pagi2 sekali untuk membantu kegiatan ini.

Saya berdoa malam itu untuk kegiatan esok hari. Agar cuaca cerah dan kegiatan berjalan lancar

==

Masih terlalu pagi ketika saya terbangun karena suara gaduh di rumah, menunggu beberapa saat untuk menyesuaikan mata saya dengan cahaya yang ada. Rupanya mereka sudah tiba. Ada Firman, Hamok dan Awi, teman Hamok. Hanya bertiga karena yang lain ternyata tak bisa hadir. Tampaknya perjalanan tersebut cukup melelahkan, karena setelah berbincang sejenak mereka langsung mengambil posisi yang masih kosong untuk tidur.

Berniat melanjutkan tidur, tapi sepertinya saya sudah tak bisa terlelap lagi. Hanya tidur-tidur ayam. Saya pun memilih mengerjakan sholat subuh. Dan kemudian berbaring saja bersama yang lain. Bolang dengan bersemangat menggoreng pisang, aneh pikir saya, tapi tak urung, saya pun sempat mengambil 2 buah karena ternyata saya pun merasa lapar. Aneh yang mengenyangkan ternyata.

Pagi pun tiba. Saya bersemangat untuk melihat sunrise. Melihat sunrise di puncak Gunung Padang sepertinya ide yang menarik. Tapi karena satu dan lain hal kami  tak jadi melakukannya. Dan sunrise pagi itu memang tidak seindah yang kami harapkan. Awan masih menggantung di timur, hanya sedikit rona keemasan yang terlihat.

Tak bisa melihat sunrise tak membuat kami kecewa, sarang laba2 menjadi obyek menarik untuk difoto pagi itu, embun yang melekat di sarang tersebut terlihat seperti kalung perak berhiaskan Kristal-kristal bening, cantik!! Teman-teman sudah punya spot masing-masing, sementara saya lebih tertarik memotret kabut yang turun di puncak kebun teh di kejauhan. Tapi saya tetap tak bisa leluasa memotret karena  keterbatasan batere kamera.

Saatnya berbenah karena waktunya hampir tiba, setelah kordinasi, diputuskan bahwa kami berbagi tugas, Bolang, Efrian, Hanum dan Hamok menjadi fotografer, Sem menjadi pengarah gaya, Umi menjadi penerima tamu dan pencatat kehadiran warga, saya dan firman seksi dokumentasi, serta Awi seksi repot. Ruang tamu dan ruang tengah sudah dibereskan sehingga bisa digunakan untuk tempat pemotretan.Ternyata background yang dibawa dari Jakarta tidak sesuai dengan yang diinginkan, maka diputuskan tetap menggunakan dinding bilik rumah ini sebagai background karena hasilnya terlihat bagus ketika kami mencobanya semalam.

Sekitar pukul tujuh lebih para warga mulai berdatangan, Kami mulai sibuk, studio Bolang yang terletak di ruang tamu menjadi studio perdana, karena studio itu yang siap lebih awal. Kemudian ketika penduduk menjadi ramai akhirnya semua fotografer mendapat kliennya masing-masing. Sem sibuk mengarahkan gaya para anggota keluarga agar terlihat bagus diframe, berulang kali dia harus mondar mandir dari studio satu ke yang lainnya. Dia mungkin yang tersibuk pagi itu, Tapi jelas dia bukan favorit para balita, beberapa balita yang mungkin gugup karena kilatan cahaya, serta melihat orang-orang baru yang tak dikenalnya menjadi menangis ketika akan difoto. Sem berusaha menenangkannya tapi bukannya berhenti para balita itu malah lebih keras menangisnya hahaha, kami pun tertawa karenanya.

Saya senang sekali karena para warga menganggapi kegiatan ini dengan antusias, Mereka datang siap untuk difoto, beberapa mengenakan baju mereka yang terbaik. Menurut saya begitu karena saya melihat sedikit keseharian mereka sehari sebelumnya ketika mengantarkan undangan tersebut. Ada yang lengkap dengan membawa istri serta anak-anak mereka yang masih kecil2 ada yang hanya dengan anaknya tanpa istri atau suami karena bekerja atau tinggal di luar desa. Kami menghargainya, sangat sebenarnya, karena dengan mereka hadir saja di kegiatan ini pun kami sudah senang sekali.

Yang membuat surprise adalah ada beberapa keluarga datang dengan orang tuanya yang sudah renta, berkebaya serta menggunakan kain atau jarit dalam bahasa jawa, ada yang saya tahu merupakan keluarga dari atas bukit, saya tahu itu cukup membutuhkan usaha hanya untuk datang kemari, terlebih bagi yang sudah tua seperti mereka, Ada nenek yang terlihat tersengal-sengal nafasnya ketika tiba, sedikit gemetar ketika akan difoto, sehingga perlu beristirahat terlebih dahulu, ada juga yang merasa sesak nafas sehingga Umi perlu membantunya untuk melonggarkan ikatan di pinggangnya.  It’s somehow touching.

Beruntung pagi itu tidak hujan, hanya sedikit mendung sehingga jalan tidak terlampau licin untuk dilalui. Hal itu memudahkan mereka untuk datang kemari, walau ketika dikemudian hari saya lihat hasil foto-foto dokumentasi saya, sandal-sendal mereka terlihat tebal dengan tanah dibawahnya.

Kru sctv juga melakukan tugasnya meliput kegiatan ini, mas Agus sang kameraman beberapa kali mengambil gambar untuk keperluan liputannya pada saat sesi pemotretan berlangsung, Alya melakukan wawancara dengan beberapa penduduk yang hadir, serta mewawancarai Firman dan Umi sebagai bagian dari wtm, Umi  menjelaskan konsep wtm pada saat wawancara berlangsung, serta tujuan kegiatan yang kami lakukan hari ini, yang merupakan  pilot project untuk acara  serupa dengan cakupan yang lebih luas lagi.  saya tak tahu apa yang ditanyakan pada Firman pada saat dia di wawancara, yang jelas dia terlihat sedikit grogi, which is weird menurut saya :p bisa grogi juga ternyata hehehe. Anyway enjoy your fame guys 😉

Setelah istirahat sebentar karena sesi pertama telah selesai, sarapan dengan roti isi telur dadar buatan Umi dan Awi yang dimakan ketika tidak sedang mengambil gambar. Beberapa keluarga masih datang pada sesi kedua. Sehingga total keluarga yang tercatat datang hari itu untuk pemotretan foto keluarga ini berjumlah 29 keluarga. Lebih dari setengah jumlah keluarga yang ada di dusun ini.

Kami senang sekali dengan hasil tersebut, tak lupa kami pun berfoto bersama, semua lengkap ditambah Alya dan mas Agus. Satu Foto keluarga besar kami di gunung Padang diambil dengan kamera Bolang. 😉

Setelah tak ada lagi keluarga yang datang, acara foto keluarga pagi itu ditutup dengan sarapan bersama. Masih dengan beralaskan daun pisang, tentu kali ini yang lebih besar karena jumlah kami yang bertambah, nasi goreng, omelet mie, serta abon menjadi menu mewah lainnya pagi itu. Setelah selesai kami pun membereskan peralatan kami. Saya sudah tidak sabar, terlebih menjelang siang cuaca disini menjadi cerah. Saya tersenyum, mungkin ini sedikit hadiah dari Allah atas kegiatan amal yang kami lakukan.

Dan sekarang waktunya bersenang-senang.. gunung padang kami dataang!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s